Senin, 13 Desember 2010

PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI


MAKALAH
PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
DI SD NEGERI PILANGSARI I UPT DINAS PENDIDIKAN
KECAMATAN NGRAMPAL KABUPATEN SRAGEN

UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH APLIKASI KOMPUTER DAN INTERNET
DOSEN PENGAMPU :
 Prof.Dr.BUDI MURTIYASA,M.Kom




Oleh 
 SUTRISNO
NIM.Q.100090181
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM PASCA SARJANA
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2010



DAFTAR ISI
Halaman Judul.................................................................................................
DAFTAR ISI....................................................................................................i
A.PENDAHULUAN........................................................................................1
    1.Latar Belakang Masalah.........................................................................1
    2.Rumusan Masalah...................................................................................3
B.PEMBAHASAN..........................................................................................3
    1.Pengertian Persepsi.................................................................................3
    2.Hakekat Teknologi Pembelajaran..........................................................6
    3.Perkembangan Teknologi Pendidikan....................................................9
    4.Komputer / Internet sebagai Media Pembelajaran...............................12
    5.TIK Kurikulum Berbasis Kompetensi...................................................14
    6.Kesiapan SDN Pilangsari I Dalam Pembelajaran Berbasis TIK.........14
C.KESIMPULAN..........................................................................................15
    1.Kesimpulan.............................................................................................15
    2.Saran-Saran............................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA....................................................................................16

 i



PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI
DI SD NEGERI PILANGSARI 1 UPT DINAS PENDIDIKAN
KECAMATAN NGRAMPAL
KABUPATEN SRAGEN

A.      PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang Masalah
Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah mempengaruhi di seluruh aspek kehidupan tanpa terkecuali dalam dunia pendidikan, namun sesungguhnya hal ini dapat dimanfaatkan untuk memberikan dukungan terhadap adanya tututan reformasi khususnya di dalam pendidikan itu sendiri, sehingga pengembangan dan pemanfaatan media pembelajaran berbasis teknologi informasi dan komunikasi baik yang bersifat off-line maupun on-line dapat dimanfaatkan sebagai bahan masukan bagi pihak yang berminat. Teknologi informasi dan komunikasi dalam waktu yang cukup singkat telah berkembang dengan sangat cepat.
Dalam kebijakan nasional teknologi informasi dan komunkasi menjadi kunci dalam dua hal yaitu , 1.Efisiensi proses dan 2. Memenangkan kompetisi, demikian juga dengan lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah-sekolah, tanggungjawab sekolah dalam memasuki era globalisasi yaitu harus menyiapkan siswa untuk menghadapi semua tantangan yang berubah sangat cepat dalam masyrakat kita, dalam hal ini menyebabkan sekolah dituntut untuk mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing dalam kompetisi global. Peningkatan kualitas dan kemampuan siswa dapat dilakukan dengan mudah, yakni dengan memanfaatkan internet sebagai lahan untk mengakses ilmu pengetahuan seluas-luasnya, dan dengan memasukan teknologi informasi komunikasi sebagai pendekatan dalam proses pembelajaran pada lembaga pendidikan atau sekolah.
 1

Pemerintah Kabupeten Sragen telah menetapkan bahwa mata pelajaran komputer wajib diajarkan di sekolah dasar dan masuk dalam kurikulum muatan lokal, dan nilainyapun akan tercantum dalam raport serta untuk kelas enam masuk di dalam surat tanda tamat belajar, inipun sesuai dengan program Dinas Pendidikan Nasional sebagai induk dari semua sekolah, yang memiliki beberapa program yang berguna bagi peningkatan kualitas siswa dan sekolah dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi, misalnya jaringan informasi sekolah, portal bahan belajar dan jaringan komunikasi sekolah serta media sharing ilmu pengetahuan atau open knowledge dan education.
 2

Dari pernyataan diatas menunjukan bahwa teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan dalam proses pembelajaran pada lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah bahkan dari tingkat sekolah dasar, namun awalnya masih ada beberapa sekolah di UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen belum siap melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan teknologi informasi komunikasi, para kepala sekolah dan guru saling mempertanyakan tentang pembelajaran menggunakan TIK, karena dianggap sulit, sebagian guru banyak yang gagap komputer, dan bahkan banyak sekolah yang belum dilengkapi komputer, sehingga banyak menimbulkan banyak persepsi dikalangan pendidik diwilayah Kabupaten Sragen pada umumnya dan di Kecamatan Ngrampal pada khususnya, tetapi hal itu itu tidak berlangsung lama, persepsi dikalangan pendidik sebagai hasil proses mental yang menghasilkan bayangan, sehingga dapat mengenal obyek dengan jalan asosiasi pada ingatan lebih lama, proses mental yang dikembangkan merupakan hal positif sehingga para pendidik khususnya segera menyadari bahwa keberadaan dan fungsinya TIK sebagi pentransfer nilai, ide dan konsep kepada siswanya sangat dibutuhkan, sehingga walaupun belum mampu menyediakan media komputer yang memadai tetapi pada setiap sekolah di wilayah UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngrampal telah memiliki beberapa set komputer untuk pembelajaran.
2.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas tentang pentingnya teknologi informasi dan teknologi dalam upaya peningkatan mutu di sekolah, maka masalah yang dikaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
a.    Bagaimana kesiapan SD Negeri Pilangsari I UPTD Pendidikan Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen dalam pembelajaran berbasis TIK ?
b.    Bagaimana persepsi guru di SD Negeri Pilangsari I UPTD Pendidikan Ngrampal Kabupaten Sragen terhadap pemanfaatan TIK dalam pembelajaran ?

B.       PEMBAHASAN
1.    Pengertian Persepsi
Persepsi merupakan penerimaan atau tanggapan langsung dan suatu serapan. Dalam KLBI ( 1990 ) disebut suatu proses seseorang dalam mengetahui beberapa hal melalui paca inderanya, dalam tanggapanya seseorang tidak harus melihat hal atau bendanya secara konkrit. Tanggapan secara abstrakpun yang ditandai dengan : bendanya tidak ada, hanya berupa bayangan, tidak bergantung waktu dan tempat dan bersifat imaginer juga merupakan ciri persepsi ( Dakir,1993 ) dengan demikian  persepsi seseorang bisa dilakukan dengan cara langsung dan tidak langsung.
 3

Persepsi merupakan suatu proses yang bersifat komplek dan menyebabkan orang dapat menerima atau meringkas informasi yang diperoleh dari lingkunganya ( Fleming & Levie, 1981 ),proses tersebut berawal dari komponen kognisi ( Mann , 1969 ) sehingga persepsi dianggap sebagai tingkat awal struktur kognitif seseorang, melalui komponen kognisi akan dihasilkan ide, dimana yang diperoleh udian konsep, dan pemahaman mengenai apa yang dilihat. Dengan demikian persepsi seseorang pada obyek psikologi yakni berupa  kejadian, ide dan situasi tertentu dan akan menghasilkan tanggapan yang berupa gambaran atau semacam bekas yang tinggal dalam ingatan ( Sardiman, 1992 ). Gambaran yang diperoleh itu selalu terkenang dan membekas sehingga mempengaruhi perilakunya, dalam dunia pendidikan tanggapan yang akan diperoleh subyek didik diarahkan pada tujuan yang telah ditetapkan.
Pengamatan manusia pada suatu subyek psikologis diwarnai dengan nilai kepribadianya, dengan perkataan lain, persepsi seseorang dipengaruhi oleh berbagai faktor, menurut Dakir ( 1993 ) faktor-faktor itu dikelompokan menjadi faktor intern dan faktor ektern, faktor intern meliputi alat indra sehat dan perhatian sedang faktor ekstern meliputi rangsang jelas dan waktu yang cukup. Dalam istilah lain faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi meliputi faktor ciri-ciri khas dari obyek stimulus, pribadi, pengaruh kelompok dan perbedaan latar belakang kultural (Sadli, 1977), sedang pengalaman, proses belajar, cakrawala dan pengetahuan juga mempengaruhi persepsi ini menurut Mar’at ( 1984 ), Faktor pengalaman dan faktor proses belajar atau sosialisasi mempengaruhi persepsi karena akan memberikan bentuk dan struktur terhadap apa yang dilihat, faktor pengetahuan dan faktor cakrawala akan memberikan arti pada obyek psikologi.
Persepsi seseorang diwarnai oleh komponen afeksi yakni suatu  komponen yang memberikan evaluasi emosional berupa senang atau tidak senang terhadap suatu obyek, persepsi seseorang juga diwarnai oleh komponen konasi yakni kecenderugan bertigkah laku yang menentukan kesediaan jawaban berupa tindakan terhadap obyek . 
 4

Komponen konasi berperan sebagai keseimbangan, apabila obyek yang dilihat sesuai dengan penghayatan, yakni unsur nilai dan norma dirinya dapat menerima secara rasional dan emosional, maka individu menolak dan reaksi yang timbul adalah apatis, menentang bahkan memberontak.
Kajian persepsi di depan sejalan degan pendapat dari Bell (Sumarjoko,1995) yang menyatakan bahwa persepsi merupakan hasil interaksi antara individu dengan obyek, menurutnya tahap paling awal dari hubungan manusia dengan lingkunganya adalah kontak fisik individu dengan obyek fisiknya, obyek tampil dengan kemanfaatan masing-masing, sedang individu datang dengan sifat-sifat individu, pengalaman, bakat, minat dan berbagai ciri kepribadianya. Hasil interaksi individu dengan obyek adalah persepsi individu tentang obyek itu sendiri. Jika persepsi masih berada dalam batas opimal individu berarti terjadi keadaan seimbang sehingga dipertahankan karena menyenangkan, sebaliknya jika obyek yang dipersepsikan di luar batas optimal menimbulkan tekanan atau stress. Tekanan yang sangat membebani itu mengakibatkan individu melakukan coping behavior atau penyesuaian diri dengan kondisi dirinya, terhadap penyesuaian diri individu menimbulkan dua kemungkinan yakni gagal atau sukses.
Dari penjelasan Bell di depan menunjukan bahwa persepsi tidak bersifat statis, melainkan bisa berubah-ubah, dalam istilah lain persepsi itu sifatnya bersifat relatif atau tidak absolut (soekamto,1992) tergantung pada pengalaman sebelumnya. Hal ini disebabkan karena hasil dari tingkah laku berupa coping akan menyebabkan perubahan pada individu maupun pada persepsinya (Sarwono, 1992) menjelaskan proses perubahan persepsi yang bisa disebabkan oleh proses faal/ fisiologi dari sistem syaraf pada indera-indera manusia maupun disebabkan oleh proses psikologi.
 5

2.    Hakekat Teknologi Pembelajaran
Teknologi pendidikan sering dikacaukan dengan istilah teknologi pengajaran, teknologi pengajaran merupakan bagian dari teknolgi pendidikan, hal ini didasarkan pada konsep bahwa pengajaran adalah bagian dari pendidikan, sedang teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan dan organisasi serta pengelolaan cara-cara pemecahan masalah pendidikan yang terdapat didalam situasi belajar yang memiliki tujuan dan disengaja (Sudjana dan Rivai, 2001), selanjutnya Sudjana mengatakan bahwa teknologi pengajaran adalah merupakan sebuah konsep yang komplek sehingga memerlukan definisi yang komplek pula. Definisi-definisi yang muncul hendaknya dipandang sebagai satu kesatuan sebab tidak ada satupun definisi yang lengkap. Teknologi pengajaran merupakan satu himpunan dari proses terintegrasi yang melibatkan manusia, prosedur, gagasan, peralatan dan organisasi serta pengelolaan cara-cara pemecahan masalah pendidikan yang terdapat di dalam situasi yang memiliki tujuan dan disegaja ( Sudjana dan Rivai, 2001 )
Inovasi di bidang teknologi terutama teknologi informatika telah merubah wajah dunia pendidikan dari sistem korespodensi menjadi sitem pembelajaran apa yang dikenal dengan istilah belajar jarak jauh, sejak itu pulalah perubahan besar dibidang pendidikan telah terjadi melalui perkembangan teknologi informasi dan komunikasi atau TIK yang telah menggunakan jasa satelit, transmisi gelombang mikro, kabel optik dan komputer yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang sangat cepat, efektif dan efisien. Penggunaan interatif teknologi canggih itulah yang telah mengubah wajah pendidikan dengan cepat diantaranya produksi bahan pembelajaran, merancang bahan pembelajaran itu sendiri telah tersedia sangat banyak dan canggih. Tidak ketinggalan perpustakaan telah mulai menyediakan vedio, disc dan perangkat lunak komputer.Kalau begitu, apakah sesungguhnya hakikat teknologi itu ?
 6

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah merambah ke berbagai sektor bidang kehidupan, bukan saja bidang pendidikan akan tetapi hampir semua aspek dalam kehidupan umat manusia yang bersifat multi dimensional. Teknologi memberikan kemudahan, kebaikan, dan mempercepat proses komunikasi yang lebih efektif serta efisien yang dapat meningkatkan kualitas kehidupan manusia. Manusia sebagai makhluk homo sapiens dan sekaligus sebagai homo faber telah mengembangkan teknologi yang menghasilkan keajaiban. Manusia disebut homo faber karena ia makhluk yang suka membuat peralatan, sedangkan sebagai homo sapiens karena ia selalu berpikir yang mencerminka kaitan antara pengetahuan yang bersifat teoritis dengan teknologi yang bersifat praktis. Pada dasarnya ilmu merupakan kumpulan pengetahuan yang bersifat menjelaskan berbagai gejala alam yang memungkinkan manusia melakukan serangkaian tindakan untuk menguasai gejala tersebut berdasarkan penjelasan yang ada (Suriasumantri, 1999)
Ditinjau dari segi aksiologi maka ilmu harus mengembangkan berbagai sarana, dan harus memberikan kemaslahatan bagi umat manusia. Ilmu merupakan pengetahuan yang memungkinkan manusia dapat mengembangkan teknologi, tanpa ilmu teknologi tidak mungkin dapat berkembang, sebab teknologi merupakan penerapan ilmu. Bila ilmu dikembangkan sebagai suatu cara atau alat untuk memenuhi suatu keperluan hidup tertentu, maka terciptalah teknologi. Sehingga dengan demikian ilmu adalah pengetahuan yang dikembangkan oleh manusia untuk memecahkan masalah-masalah praktis dalam kehidupannya (Sumantri, 1999:161). Menurut Arnold Johnson & Martin Peterson dalam The Liang Gie (1996) menyatakan bahwa teknologi adalah penerapan dari ilmu dan hasil-hasil penelitian ilmiah untuk pemecahan masalah-masalah praktis.
 7

Dalam proses belajar mengajar, model pendidikan teknologis lebih menitik beratkan kemampuan peserta didik secara individual terhadap materi pembelajaran yang telah disusun ke tingkat kesiapan sehingga peserta didik mampu memperlihatkan perilaku yang sesuai dengan yang diharapkan. Melalui teknologi, materi pelajaran dan metodologi pengajaran ditetapkan dengan dukungan teknologi. Singkatnya secara esensial teknologi pengajaran dapat menggantikan peran pendidik dan peserta dapat berperan aktif sebagai pelatih yang mempelajari semua data dan ketrampilan yang berguna. Asosiasi komunikasi dan Teknologi Pendidikan (The Association for Educational Communications and Technology – AECT), sejak tahun 1997 telah merumuskan definisi atau istilah dalam bidang studi ini. Sebagian dari istilah tersebut berorientasi terhadap profesi secara umum dan yang lain berorientasi secara khusus terutama berkaitan dengan media. Meskipun asosiasi mengajukan definisi tersebut, namun asosiasi mempunyai komitmen untuk secara terus-menerus mengkaji ulang definisi dan memperbaiki serta menerbitkannya. Teknologi pengajaran mulai tumbuh dan berkembang baik sebagai profesi maupun sebagai bidang studi akademik yang terus dikaji. Asosiasi komunikasi dan Teknologi Pendidikan (The Association for Educational Communications and Technology – AECT) telah membentuk Komisi definisi dan terminologi yang secara resmi pada tahun 1994 telah merumuskan definisi teknologi pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan serta evaluasi proses dan sumber untuk belajar. Selanjutnya Sells dan Richey mengatakan bahwa teknologi instruksional merupakan teori dan praktek dari desain, pengembangan, pemanfaatan manajemen, dan evaluasi terhadap proses dan sumber daya untuk mencapai tujuan belajar. Definisi tersebut dimaksudkan untuk melingkupi keseluruhan dimensi teori dan praktek bidang teknologi instruksional, tetapi nampaknya masih tetap menggunakan pijakan teori lama yang dikembangka dari AECT sambil mengakomodasikan perkembangan baru dan penerapan teknologi instruksional di lapangan.
 8

Berdasarkan beberapa definisi tersebut ternyata satu dengan yang lain tidak selalu sejalan, seringkali mengandung perbedaan konsep yang mengakibatkan perdebatan sengit diantara para pakar. Tidak ada satu teoripun yang disepakati oleh semua orang. Namun keadaan seperti itu biasa terjadi dalam menjelaskan hakekat ilmu-ilmu sosial, hal itulah yang menyebabkan teknologi pendidikan menjadi kajian yang dinamis dan sangat menarik, walaupun demikian keunikan teknologi pendidikan sebagai suatu bidang terapan telah disepakati  hal ini tercermin dalam tiga konsep utamanya ( Suparman,2009;9 ), yaitu : Satu menggunakan berbagai jenis sumber belajar antara lain berbagai macam media, peralatan, teknik, metode dan stategi pembelajaran, Dua penekanan terfokus pada belajar menjadi lebih menyentuh dan lebih bermakna bagi setiap individu dan bersifat pribadi bagi orang yang belajar, Tiga menggunakan pendekatan sistem dalam pemecahan masalah “ human learning “.
3.    Perkembangan Teknologi Pendidikan
Perkembangan metode pembelajaran merupakan tanda lahirnya teknologi pengajaran yang dikenal sampai sekarang ini, walaupun dari latar belakang sejarahnya, metode pembelajaran tidak didasarkan atas ilmu pengetahuan dan hasil penelitian seperti yang kita ketahui, dalam metode pengajaran terkandung konsep-konsep yang mempengaruhi cara berfikir, bertindak dan berperilaku dalam pengembangan pengajaran yang kemudian dikenal sebagai teknologi pendidikan. Tampaknya konsep teknologi pendidikan merupakan gejala baru didalam dunia pendidikan, namun sebenarnya konsep yang mendasari  telah berkembang selama bertahun-tahun adalah dari hasil pemikiran dan konsep-konsep pengajaran sebelumnya.
 9

Sekalipun perkembangan konsep teknologi pendidikan dapat ditelusuri jejaknya melalui latar belakang masalah yang mendahuluinya, sejak jaman Yunani kuno, maka gerakan yang mendasari muncul dan terwujudnya bidang dan konsep teknologi pengajaran seperti sekarang ini, maka Sudjana ( 2001:57-72 )telah menyusun secara sistematis perkembangan teknologi pengajaran, yaitu :
a.         Alat Bantu visual
Dalam konsep pengajaran visual adalah setiap gambar, model, benda, atau alat-alat lain yang memberikan pengalaman visual yang nyata kepada siswa. Alat bantu visual itu bertujuan untuk : 1.memperkenalkan, membentuk, memperkaya, serta memperjelas pengertian yang abstrak kepada siswa. 2. Mengembangkan sikap sigap yang dikehendaki. 3. Mendorong kegiatan siswa lebih lanjut.
b.         Alat Bantu Audiovisual
Konsep pengajaran visual kemudian berkembang menjadi audiovisual aids pada tahun 1940. Istilah ini bermakna sejumlah peralatan yang dipakai oleh para guru dalam menyampaikan konsep, gagasan, pengalaman yang dianggap oleh indra pandang dan indra pendengaran. Penekanan utama dalam pengajaran audiovisual adalah pada nilai belajar yang diperoleh melalui pengalaman konkrit, tidak hanya didasarkan pada kata-kata belaka, pengajaran audiovisual bukan metode mengajar serta materi audiovisual hanya dapat berarti bila dipergunakan sebagai bagian dari proses pengajaran.
c.         Komunikasi Audiovisual
Pendekatan yang lebih menguntungkan dalam arti memperoleh pengertian yang lebih efektif dibidang audiovisual terdapat dalam konsep komunikasi. Orientasi terhadap proses komunikasi yang diaplikasikan dalam kegiatan instruksional telah merubah kerangka teoritis teknologi instruksional, dengan demikian tekanan tidak lagi diletakkan pada benda atau bahan pelajaran dalam bentuk materi audiovisual untuk pengajaran, melainkan dipusatkan pada keseluruhan 
 10

proses komunikasi informasi dari sumber yaitu guru kepada penerima yaitu siswa.
d.        Kontribusi Ilmu Pengetahuan Perilaku
Sumbangan ilmu pengetahuan perilaku kepada teknologi pengajaran semula hanya membatasi dirinya pada teori-teori belajar lama, namun dengan diperkenalkannya konsep penguatan dan aplikasinya kedalam programed instruction dan teaching machine oleh B.F Skinner, seperti dikutip oleh Prasetyo (1997:3-6) merupakan aplikasi langsung dari pandangan bahwa peralatan dan bahan pelajaran harus dapat berbuat lebih banyak daripada sekedar penyaji informasi, alat-alat dan bahan pelajaran itu harus dikaitkan kepada perilaku siswa.
e.         Pendekatan Sistem Dalam Pengajaran
Perkembanagn konsep teknologi pengajaran dan komunikasi audiovisual menuju ke pendekatan sistem, disebabkan oleh adanya pemikiran yang memandang teknologi pendidikan sebagai suatu pendekatan sistem didalam proses belajar mengajar yang dipusatkan pada desain, implementasi, dan evaluasi terhadap proses mengajar dan belajar. Hal ini membawa implikasi kepada batasan pengajaranyang menjadi lebih luasa daripada sekedar alat-alat instruksional. Teknologi pegajaran diartikan sebagai cara mendesain yang sistematis, melaksanakan dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar mengajar, mengkaitkan dengan tujuan-tujuan yang telah dikhususkan serta didasarkan atas prinsip-prinsip belajar dan komunikasi yang terjadi pada manusia.
f.          Dari Komunikasi audiovisual dan pendekatan sistem ke teknologi pengajaran
Makna teknologi bukan hanya terdiri dari mesindan manusia tetapi merupakan susunan padu yang unik dari manusia dan mesin, gagasan, prosedur dan pengelolaan. Makna teknologi pengajaran dalam pengertian mutakhir meliputi pengelolaan gagasan, prosedur, biaya, mesin dan manusia di dalam proses pengajaran yang melibatkan peralatan fisik yang menyalurkan informasi. 
 11

Berdasarka uraian tersebut maka perkembangan teknologi pendidikan juga dipengaruhi oleh inovasi teknologi itu sendiri. Teknologi audiovisual yang semula menggunakan piringan hitam telah berubah menjadi compact disc, film diganti pita rekaman video atau rekaman video dan audiodigital.
4.    Komputer /  Internet sebagai Media pembelajaran
Sebagai media diharapkan akan menjadi bagian dari suatu proses belajar mengajar di sekolah,komputer / internet diharapkan mampu memberikan dukungan bagi terselenggaranya proses komunikasi interatif antara guru,siswa,dan bahan belajar sebagaimana yang dipersyaratkan dalam sustu kegiatan pembelajaran. Kondisi yang perlu didukung oleh komputer / internet tersebut terutama berkaitan dengan strategi pembelajaran yang akan dikembangkan,yang bila dijabarkan secara sedrhana bisa diartikan sebagai kegiatan komunikasui yang dilakukan untuk mengajak siswa mengerjakan tugas-tugas dan membantu siswa dalam memperoleh pengetahuan yang dibutuhkan dalam rangka mengerjakan tugas-tugas tersebut ( Boettcher :1999 ).
Dari sekian study yang telah dilakukan, menunjukan bahwa internet dan komputer memang bisa digunakan sebagai media pembelajaran, seperti study yang telah dilakukan oleh ,Center For Applied Special Technology ( CAST ) pada tahun 1996 yang dilakukan terhadap sekitar 500 siswa kelas lima dan enam sekolah dasar, dari ke lima ratus siswa tersebut dimasukan dalam dua kelompok yaitu kelompok eksperimen yang dalam kegiatan belajarnya dilengkapi dengan komputer dan akss ke internet serta kelompok kontrol sebagai kelompok ke dua, setelah dua bulan menunjukan bahwa kelompok ekperimen mendapatkan nilai yang lebih tinggi berdasarkan hasil test akhir.
 12

Dengan melihat sebagaimana media yang lain yang selama ini telah dipergunakan sebagai media pendidikan secara luas, komputer / internet mempunyai peluang yang tak kalah besarnya dan bahkan mungkin karena karakteristiknya yang khas dan bakan mungkin menjadi media pembelajaran yang paling terkemuka dan paling banyak dipergunakan secara luas dalam dunia pendidikan atau dalam pembelajaran. Dalam dunia pendidikan penggunaan teknologi berbasis komputer merupakan cara untuk menyampaikan materi dengan menggunakan sumer-sumber yang bebasis mikroprosesor, dimana informasi atau materi yang disampaikan disimpan dalam bentuk digital. Aplkasi teknologi komputer dalam pembelajaran umumnya dikenal dengan istilah” Computer Assisted Instruction “ ( CIA ) atau istilah yang sudah diterjemahkan disebut sbagai “ Pembelajaran Berbantuan Komputer “.
Program CIA mempunyai dua karakteristik, yaitu : Satu CIA merupakan integrated multimedia yang dapat menyajikan suatu paket bahan ajar/tutorial yang berisi komponen visual dan suara secara bersamaan. Kedua CIA mempunyai komponen intelligence yang membuat CIA bersifat interaktif dan mampu memproses data atau jawaban dari isi si pengguna, Kedua karakteristik inilah yang membedakan antara program pembelajaran. Pemanfaatan multimedia pembelajaran bisa dilakukan peserta didik secara mandiri, kelompok atau bersama-sama dalam laboratorium komputer dengan bimbingan guru komputer, walaupun memilki karakteristik sebagai media pembelajaran mandiri, yang mampu mengkoordinir tingkat kecepatan belajar berbeda, baik peserta didik yang mempunai learning style slow learner, avarege maupun fast.
5.    Teknologi Informasi Komunikasi Kurikulum Berbasis Kompentensi
Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi yang diujicobakan sejak tahun 2005, maka standar kompetensi matapelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi, meliputi :
 13

a.    Konsep, dan pengetahuan serta operasi dasar
b.    Mengidentifikasi komponen dasar perangkat keras dan perangkat lunak serta aturan etika dan keslamatan kerja
c.    Pengolahan informasi untuk produktifitas
d.   Memodikasi dokumen dengan program pengolah data
e.    Pemecahan masalah,eksplorasi dan komunikasi
f.     Membuat karya menggunakan program pengolah data
g.    Menerapkan internet untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi.
Kompetensi dasar tersebut kemudian dijabarkan menurut tingkat kelas,dan secara operasional dijabarkan berdasarkan komponen dasar, indikator dan materi pokok.
6.    Kesiapan SDN Pilangsari I dalam Pembelajaran Berbasis TIK
Kesiapan SD Negeri Pilangsari I UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Ngrampal Kabupaten Sragen dalam penerapan pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ditandai dengan adanya laboratorium komputer ( dilengkapi 20 komputer untuk siswa dan 2 komputer untuk pembimbing serta 2 komputer untuk kantor ) , materi pembelajaran berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi ( animasi,CD, pembelajaran ) guru dan tenaga kependidikan yang memiliki kemampuan dalam pembelajaran berbasis Teknolgi Informasi dan Komunikasdi, memiliki jaringan telepon, internet, LAN (Local Area Network ), dan memiliki sumber daya listrik yang permanen dengan jalan berlangganan dengan PLN.
C.      KESIMPULAN DAN SARAN
1.    Kesimpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat disimpulkan bahwa :
 14

a.    Berdasarkan data adanya laboratorium yang dilengkapi dengan komputer, materi pembelajaran berbasis TIK ( berupa animasi dan CD pembelajaran ), guru yang tidak gagap iptek, memiliki jaringan telepon, internet dan LAN serta sumber daya listrik dari langgana PLN menandakan bahwa SD Negeri Pilangsari I telah siap mengadakan pembelajaran berbasis TIK.
b.    Tentang persepsi guru tentang pemamnfaatan TIK dalam pembelajaran,telah menyatakan mendukung dan menggunakan model TIK dalam pembelajaran khususnya di SD Negeri Pilangsari I
2.    Saran-Saran
a.    Pemerintah untuk membangun dan melengkapi sarana dan prasarana khususnya laboratorium komputer di Sekolah Dasar pada khususnya, demi kemajuan anak bangsa
b.    Memberikan dukungan terhadap guru atau tenaga kependidikan dengan jalan penataran tentang pembelajaran  berbasis TIK.

  15

DAFTAR PUSTAKA
Baron, R. A. dan Donn Byme, 1964, Social Psychology, 7th., Boston: Allyn and Bacon
Dakir, 1993, Dasar-dasar Psikologi, Yogyakarta : Pustaka belajar
David, Berlo K. 1960. The Process of Communication, An introduction in Theory and Practice (New York, Chicago: by Halt, Rinehard and Winston, Inc.
Fleming, M. dan H. Levie, 1981, Instructional Message design; Principles for the behavior sciences, Englewood Cliffs, New York : Educational Technology. Publ.
Hardjito, 2004, Aplikasi Computer Assisted dan Learning pada Bidang Pendidikan, Jurnal Teknologi Pendidikan, Vol. 6
Lie, T.L., 1996, Pengantar Filsafat Teknologi, Yagyakarta: Penerbit ANDI,
Mann, L., 1969, Social Psychology, Sidney: John Wiley & Sons
Mar’at, 1984, Sikap Manusia, Perubahan serta Pengukurannya, Jakarta: Ghalia Indonesia
Poerwadarminta, WJS., 2003, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka.
Prasetyo, Irawan. 1997. Teori Belajar, Motivasi dan Keterampilan Mengajar, Jakarta: Dirjen Dkti Depdikbud, 1997.
Sadli, S., 1977, Persepsi Sosial mengenai Perilaku Menyimpang, Jakarta : Bulan Bintang
Sardiman, 1992, Interaksi dan Motivsi Belajar Mengajar, Jakarta : Rajawali Press
Sarwono, S. W., 1992, Psikologi Lingkungan, Jakarta: Grasindo
Seels, B. B. & Rita C. Richey, 1994, Instructional Technology : The Definision and Domains of the Field. Washington : AECT
Sudjana, N., Achmada Rivai, 2001, Teknologi Pengajaran, Bandung, Penerbit Sinar Baru Algensindo 
 16

Sumardjoko, B., 1995, Persepsi, Sikap pada Pengajaran Sejarah dan Pemahaman Nilai-nilai Kepahlawanan, Tesis : IKIP Jakarta.
Suparman Atwi, 2001. Kawasan Teknologi Pendidikan, Jakarta: Program Pascasarjana UNJ.
Suriasumantri, J. S., 1999, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer , Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
http://www.edukasi.net
http://www.jis.or.id
http://www.oke.or.id
http://www.wahanakom.com 







17

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar